Sinopsis Film This Is Cinta Pada Tahun 2015

0 Comments

Saya benar-benar ingat sekitar 14 tahun yang lalu film Heart (2006) menjadi sebuah fenomena di Indonesia. Pada saat itu hubungan Acha Septriasa dan Irwansyah menjadi relationship goal bagi para penontonnya, soundtrack yang mereka bawakan juga kerap kali diperdengarkan di mana-mana.

Kesuksesan film tersebut kesudahannya melahirkan versi sinetron dari filmnya yang fokus menceritakan Farel dan slot depo 10k Rachel yang telah bersahabat semenjak kecil. Tokoh Rachel diperankan oleh Yuki Kato padahal pada versi filmnya Rachel kecil diperankan oleh Rachel Amanda. Sembilan tahun kemudian, ternyata karakter Farel dan Rachel yang fenomenal dipertemukan kembali dalam drama garapan Sony Gaokasak yang berjudul This is Cinta (2015).

Sedangkan mempunyai nama tokoh utama yang sama, cerita pada film ini tidak ada hubungannya dengan film Heart yang soundtrack-nya fenomenal itu. Namun, kesamaannya Rachel (Yuki Kato) dan Farel (Shawn Adrian) pada film ini sama telah bersahabat semenjak kecil, pun semenjak masih di tempat duduk TK.

Persahabatan mereka terhalangi ibunda Rachel (Aida Nurmala) yang tidak berharap memandang si kecilnya bersahabat dengan Farel. Sang ibu selalu menyalahkan Farel saat hal buruk terjadi pada Rachel. Rachel dan Farel pun terpisahkan tatkala keluarga Rachel pindah ke luar negeri karena urusan pekerjaan.

Saat Rachel telah berusia 17 tahun, keluarganya kembali ke Indonesia dan ia segera mencari eksistensi Farel. Sementara itu Farel mencontoh perlombaan pencarian bakat demi bisa ke luar negeri untuk mencari Rachel. Saat keduanya bersua, kedua teman ini melepas rindu dan segera saling mencintai.

Kekerabatan keduanya pun diwarnai absensi orang lain seperti Nicko (Fandy Christian), jodoh Rachel yang dipersiapkan sang ibu dan Sasa (Fahira Al Idrus), teman sekolah Farel yang paling mendorongnya dalam kontes yang ia ikuti.

Saat tahu film ini akan ditayangkan di kanal Starvision Plus pada bulan Agustus lalu, aku cukup menaruh kemauan akan mendapatkan cerita asmara bertaraf lumayan. Namun, yang aku peroleh pun cukup jauh dari kata lumayan.

Penyebab utamanya tentu dangkalnya pengembangan karakter dari setiap tokoh dan resolusi perselisihannya yang diwujudkan terlalu ajaib. Bila ada orang yang sungguh-sungguh menyukai film ini, bisa diperkirakan ia jatuh cinta dengan seseorang yang sama semenjak kecil karena pengalaman tersebut sungguh-sungguh relatable dengan premis dari film ini.

Jalan cerita pada film diwujudkan relatif sederhana. Namun, bagaimana cerita pada film bisa dihayati penontonnya tergantung karakter dan semangat dari setiap tokohnya.

Karakter Rachel lah yang dioptimalkan paling kuat semenjak awal film. Merasa semestinya terus menuruti kemauan sang ibu, dalam benaknya orang tuanya itu ibarat sosok Cruella de Vil. Sang ibu menjadikan pepatah “surga di bawah telapak kaki ibu” sebagai senjata andalannya agar Rachel selalu menuruti keinginannya, termasuk yang cenderung mengekang.

Namun, semangat sang ibu diwujudkan sungguh-sungguh dangkal, sesimpel hanya berharap bergaul dengan keluarga yang sederajat status kekayannya. Sejak awal film, aku kaprah ada konflik antar orang tua antara ibu dari Rachel dan Farel yang dirahasiakan, tapi kongkritnya tidak.

Saat ibu rachel kita ketahui merupakan sosok yang menjengkelkan, sang ayah cenderung membingungkan. Dia terkadang berada di pihak Rachel dalam konflik keluarga yang ia hadapi, terkadang menyokong sang ibu demi dalih berharap yang terbaik demi si kecilnya. Dalam memastikan standar kedewasaan seorang si kecil, film pun memilih standar yang naif, hanya berdasarkan usia saja, apakah ia telah berusia 17 tahun atau belum?

Karakter Farel pun, kecuali aktingnya datar, mempunyai semangat yang dangkal. Farel berharap bersua cinta semasa kecilnya tapi entah semestinya bagaimana. Sebuah ajang pencarian bakat membuka jalannya demi bisa mencari sang pujaan hati ke luar negeri.

Memperhatikan treatment film kepada Farel dalam kontes yang ia ikuti, aku merasa kurang yakin bahwa Farel benar-benar terampil dalam bermain piano. Saat Farel kesudahannya bersua dengan Rachel pun film seolah segera melompat, tidak perlu lama membikin keduanya saling jatuh cinta. Sesudah keduanya bersua, Farel pun merasa masa bodo dengan perjalannnya di ajang yang ia ikuti karena tujuan utamanya telah tercapai.

Related Posts