Review FIlm Monkey Man 2024 Dengan Cerita Pencampuran John Wick dan The Raid

0 Comments

Patel yang juga pemeran utama memerankan tokoh Kid/Monkey Man. Pada beberapa hari, Kid menjadi pegulat figuran yang hanya jadi sasak tinju sang jagoan ring. Sementara pada hari-hari lainnya, dia bekerja di dapur klab malam dengan tujuan membalaskan dendam polisi dan politikus yang menyebabkan kematian ibunya.

Dengan pemunculan suasana yang gelap terus-menerus dan asosiasi khas atas genre laga film ini, apalagi fokus terhadap balas dendam, gampang saja bagi kita untuk mengingat jalan kisahnya seperti John Wick. Bagaimanapun, latar tempatnya taksenecis kota New York saat kita melihat pertarungan di klab-klab malam elite atau kejar-kejaran di gedung pencakar langit yang berkelas. Dalam Monkey Man, kita akan menjumpai perumahan-perumahan kumuh di India walau ada beberapa tempat klab malam yang elit. Latar seperti ini mengingatkan kita terhadap The Raid, ditambah lagi dengan pertarungan yang lebih banyak menerapkan tangan kosong.

Patel sebetulnya punya visi yang situs slot777 cukup konkret untuk film perdananya ini. Belum lagi jalan ceritanya menarik: Ibu sang tokoh utama dibunuh sebab menolak penggusuran dari pemerintah. Tokoh utama ini bahkan coba membalaskan dendam hingga ke akarnya, yaitu dari pimpinan polisi pembunuh ibunya hingga politikus serta pemimpin agama pretensius yang mencampurkan keyakinan demi kepentingan politik.

Perlu diingat bahwa keyakinan jadi unsur utama penting dalam film ini sebagaimana kebudayaan India yang mayoritas menganut Hindu. Alter ego Kid sebagai Monkey Man di ring gulat bahkan terinspirasi dari kisah Hanuman yang disebutkan oleh ibunya. Ia bahkan menemukan jati dirinya usai diselamatkan penjaga kuil Hindu Ardanariswara dan menerima siraman spiritual. Monkey Man yang menebar ancaman terhadap pemerintahan bahkan perlahan menjadi simbol perlawanan.

Patel yang menulis skenario ini bersama Paul Angunawela dan John Collee memang menulis naskah solid yang kompleksitas dan multidimensional. Dari gaya penyutradaraannya, Patel bahkan kelihatan memiliki banyak referensi film. Karakternya yang punya latar belakang pegulat hingga jadi petarung andal layaknya John Wick cukup masuk logika. Sayangnya, dalam latihan dan pencarian jati dirinya, hal ini terasa kurang solid sebab Patel takbenar-benar mengonkretkan tekad bulatnya. Di samping itu, karakter utamanya kelihatan biasa dan agak terkesan klise. Adegan krusial yang kurang solid ini cukup fatal.

Beralih ke aksi-aksinya, adegan-adegan pertarungan tangan kosong beringasnya memang mengingatkan kita terhadap The Raid. Cukup menghibur, tapi takterlalu mencolok mata juga. Pertarungan menariknya kadang menerapkan tembakan gambar yang super-kencang dan super-dekat ala film-film laga Hollywood untuk menambah efek ketegangan. Tetapi, untuk film yang banyak memberikan gambar gelap dan penuh dengan laga, adegan-adegannya menjadi kurang tertangkap dengan baik. Sedangkan, dalam adegan-adegan yang lebih stagnan, tangkapan sinematografiknya cukup apik, apalagi Sharone Meir sebagai sinematografer cukup berani untuk mengambil gambar-gambar miring.

Hasilnya, Monkey Man mungkin film aksi yang punya penulisan apik dengan karakter serta latar belakang cerita yang menarik. Sayangnya, bagi film aksi, Patel masih sepatutnya banyak belajar dalam membangun tensi dan memperlihatkan laganya dalam bentuk yang konkret. Usulannya menarik, tapi beberapa eksekusinya meleset sehingga keseluruhan filmnya kurang paripurna.

Related Posts