Review Film Dilan 1991 - Bikin Baper Tapi Nggak Sesuai Ekspetasi

Review Film Dilan 1991 – Bikin Baper Tapi Nggak Sesuai Ekspetasi

0 Comments

Film Dilan 1991 merupakan sekuel karya adaptasi dari buku karangan Pidi Baiq

Siapa di sini pecinta pasangan Dilan-Milea? Pasti banyak banget yang bakal acung tangan, dong. Mengingat kemunculan pasangan ini demikian ditunggu para pecinta terbukti saat penayangan perdana film ini telah dapat menembus angka … penonton. DAEBAK!

Walaupun saya terhitung jajaran orang yang telah telat banget nonton filmnya (sekitar nyaris sebulan sehabis penayangan pertama) tetapi saya terhitung mendambakan meramaikan dunia pereviewan tanah air. Ingat, konten selanjutnya ini bakal banyak tersebar spoiler dan bikin kamu yang tetap pingin nonton filmnya tanpa mesti bias baca liat orang lain silahkan skip artikel ini yah.

Film Dilan 1991 merupakan sekuel dari filmnya di awalnya yang berjudul Dilan 1990 merupakan karya adaptasi dari buku karangan Pidi Baiq. Bagi pecinta buku seri Dilan sebenarnya telah tentu mengetahui arah cerita film-film ini bakal kemana.

Hanya saja yang namanya karya audio-visual mirip literasi tentu menyajikan pengalaman yang berlainan supaya bikin yang telah baca bukunya bakal menunggu-nunggu gimana sih penyajian yang bakal diberikan Sang Sutradara Fajar Bustomi bareng Pidi Baiq dalam film ini.

Sayangnya inilah momok bikin film karya adaptasi. Kalau di film di awalnya sebagian pecinta dulu dikecewakan soal penentuan cast utama yakni Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan sebab dianggap tidak memenuhi ekspetasi perihal sosok seorang Dilan. Pada sekuelnya kali ini, pecinta berekspetasi bakal lebih banyak menyaksikan kemesraan Dilan dan Milea (diperankan oleh the one and only kembaranku Vanesha Prescilla wqwq). Seperti yang saya bilang, sayangnya, harapan itu tidak cukup terealisasi.

Aku sebut tidak cukup sebab sebenarnya di awal film sebenarnya kami disuguhi oleh cerita keromantisan Dilan dan Milea yang telah resmi pacaran (ecieeee) pada 22 Desember 1990. Seperti biasanya, Dilan yang jago melempar gombalan (pring kali dapat dilempar) membuat Milea klepek-klepek mirip kata-kata romantis bin nyeleneh dari Sang Panglima Tempur.

Lagi-lagi ya, sayangnya, sebab formula gombalan ala Dilan ini terlampau sering dipakai, apalagi disediakan konsisten menerus di nyaris seperempat film, saya mesti bilang lama-lama rasanya cringe banget.
Milea dan Dilan berantem

Setelah itu barulah masalah di antara pasangan ini muncul dan apalagi sampai akhir film ini kami bakal konsisten menerus menyaksikan konflik jalinan keduanya. Mulai dari saat Dilan ditahan polisi sampai dikala mereka pada akhirnya beneran mesti pisah sebab Dilan tukar sekolah.

Karena porsi mesra-mesraannya terbilang terlampau sedikit maka ku bilang saat konflik besarnya muncul saya tidak cukup simpati mirip pasangan ini. Yawdah lah yaa, pacaran terhitung baru bentar, jikalau cekcok mah telah biasa. Orang berumah tangga dan beranaq pinaq puluhan th. terhitung dapat berantem, apa kabar ini pasangan baru sebagian bulan.

Tentu saja kami nggak bakalan lihat dua biji manusia saja dalam film ini. Kehadiran cast lainnya sebenarnya dapat menawarkan konflik minor yang menarik. Sayangnya (kenapa sih kata ini konsisten muncul) kemunculan mereka seperti cuman pelengkap saja.

Seperti keberadaan Yugo (Jerome Kurnia) sebagai sosok orang ketiga dalam jalinan selayaknya potensial “mengganggu” keharmonisan pasangan ini, eh juntrungnya tambah nggak memengaruhi relationship mereka. Di sini yang keganggu mirip kehadiran Yugo hanya Milea biarpun sebenarnya di bukunya sebenarnya diceritakan begitu.

Udah gitu kemunculan Pak Dedi seorang Guru Bahasa Indonesia yang kesengsem mirip Milea menurutku nggak banget. Ekspetasiku perihal sosok Pak Dedi adalah guru muda yang baru lulus kuliah sarjana pendidikan gitu. Waktu menyaksikan yang meranin tokoh ini Ence Bagus, saya mikir “lho kok gurunya tuir”. Jadinya saat menyaksikan guru ini berusaha mendekati Milea, saya tambah ngerasa risih banget. Aku sendiri seorang guru dan saya berharap nggak tersedia guru yang bertingkah laku seperti itu di dunia nyata.

Secara total film ini tetap terbilang sukses bikin baper. Bahkan embaq embaq yang duduk di dekatku nangis begitu mengetahui ending film ini seperti apa. Ngga mengetahui ya, si sesembak nangis sebab nonton Dilan apa abis baca notifikasi sisa kuota yang sudi habis.

BACA JUGA : Rekomendasi Film Yang Kudu Ditonton Sekali Seumur Hidup

Pros dari film ini, sebagian guyonan yang cobalah diselipkan memadai sukses memancing tawa penonton. Seperti saat Dilan berpamitan ke guru-guru di sekolahnya sebelum saat tukar sekolah. Oh,iya dari tadi ngomongin Milea mulu tambah Si Dilan tidak cukup keekspose.

Dilan di film ini karakternya lebih manusiawi. Di sini Dilan dilukiskan sebagai anak SMA cowok yang terhitung dapat banedel, emosian, dan bete tepat dikekang mulu mirip pacarnya. Tapi senakal-nakalnya Dilan, doi tetap muncul sebagai anak yang hormat mirip orang lebih tua di mana itu patut diteladani oleh milenials jaman now.

Related Posts