Alexander Pichushkin

Kisah Alexander Pichushkin, Si Pembunuh ‘Papan Catur’

0 Comments

Kisah pembunuh berantai sering kali menghebohkan sarana dan membuat masyarakat merasa ngeri. Hal yang cukup aneh berjalan di Rusia, dimana seorang pembunuh berantai sadis bernama Alexander Pichushkin dijuluki bersama pembunuh ‘Papan Catur”.

Namanya Alexander Pichushkin. Lahir di Moskow, Russia terhadap tanggal 9 April 1974. Alexander sempat mengalami perihal yang tidak mengenakan selagi ia masih kecil, apalagi perihal itu terhitung yang bisa dibilang jadi pemicu dirinya untuk jadi seorang pembunuh.

Saat kecil, Alexander dulu terjatuh ke belakang selagi dirinya bermain ayunan. Saat dapat bangun, ayunan tersebut menghantam kepala nya. Hal ini dianggap telah mengakibatkan kerusakan bagian korteks frontal otaknya. Beberapa ahli terhitung berpendapat benturan keras itulah yang membuatnya tumbuh jadi sosok yang tidak bisa menghambat diri.

Teror Pembunuhan Alexander

Alexander membunuh korban pertamanya terhadap th. 1992. Korban pertamanya adalah seorang pria yang ia dorong muncul jendela dari kamarnya sampai tewas. Alexander mengaku bahwa dirinya benar-benar puas usai melaksanakan pembunuhan pertamanya, apalagi ia mengaku rasanya layaknya beroleh cinta pertama.

Karena telah ketagihan membunuh, Alexander selanjutnya menentukan untuk melacak korban-korban lainnya. Korban incarannya umumnya adalah para tunawisma dan orang berusia lanjut. Ia umumnya dapat mendatangi tempat disekitar taman Bitsevsky di Moskow untuk melacak korban disana. Setelah mendapat orang yang tepat untuk dijadikan korban, Alexander dapat mengajak orang itu untuk minum vodka dirumahnya.

Baca juga:

Review What Happened to Mr. Cha? (2021)

Film Tentang Suporter Fanatik dalam Sepak Bola. Anak Bola Wajib Nonton!

Saat dirumahnya, Alexander dapat memintah korbannya untuk minum vodka sampai mabuk sesudah itu memukul kepalanya bersama memanfaatkan palu. Ia memukuli kepala korban bersama palu sampai kepalanya hancur. Yang lebih sadis lagi, ia sesudah itu memasukan botol vodka kedalam lubang luka di kepala korban.

Seiring berjalannya waktu, Alexander telah memakan banyak korban yang umumnya menghilang di taman Bitsevsky. Hal ini memunculkan rumor bahwa ada seorang maniak yang puas menculik orang di taman tersebut. Kasus ini pun jadi terror bagi masyarakat setempat yang jadi tidak berani untuk melalui tempat taman tersebut. Keresahan masyarakat ini selanjutnya menyebabkan keraguan polisi yang menentukan untuk melaksanakan penyelidikan.

Penangkapan dan Pengadilan

Alexander berhasil ditangkap sesudah kasus pembunuhannya terhadap seorang wanita terkuak. Wanita tersebut sempat menambahkan alamat Alexander terhadap anaknya di awalnya selanjutnya ia tewas ditangannya. Sang anak yang merasa curiga gara-gara ibunya yang tidak kunjung pulang selanjutnya berharap pertolongan polisi untuk mendatangi alamat Alexander tersebut.

Dihadapan Polisi, Alexander tidak dulu muncul merasa menyesal dapat perbuatannya. Ia apalagi tunjukkan sebuah buku harian dan papan catur. Alexander mengaku bahwa dirinya mendambakan membunuh 64 orang, jumlah yang sama bersama jumlah kotak yang terdapat terhadap permukaan papan catur. Hal inilah yang membuatnya dijuluki sebagai pembunuh papan catur. Namun, sesudah meniti interogasi lebih lanjut, Alexander mangaku bahwa dirinya telah membunuh lebih dari 64 orang. Ia mengaku telah ketagihan dan merasa tidak bisa berhenti untuk membunuh.

Pengadilan selanjutnya menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup untuknya, dimana 15 th. pertama dapat dijalani Alexander dalam sebuah sel isolasi. Meskipun begitu, banyak orang yang tidak puas bersama hukuman yang dijatuhkan padanya dan berharap agar Alexander dijatuhkan hukuman mati saja.

Related Posts