How To Make Millions Before Grandma Dies

How To Make Millions Before Grandma Dies, Film Thailand Bikin Banjir Air Mata

0 Comments

Thailand lagi-lagi melahirkan film yang hebat dalam mengoyak hati sampai kuras air mata, kali ini lewat How To Make Millions Before Grandma Dies atau Lahn Mah.

Tidak ada yang megah dalam film ini. How To Make Millions Before Grandma Dies hanya bertutur soal interaksi seorang nenek dengan cucu dan tiga anaknya.

Namun, sutradara Pat Boonnitipat sukses menciptakan keindahan dengan modal premis simpel itu. Ia membangun cerita sepenuh hati agar film ini membuahkan kisah emosional tanpa wajib bermewah-mewahan.

Pat Boonnitipat sepertinya mengerahkan otak dan tenaga untuk memusatkan cerita pada dua hal: kedekatan dan emosi.

Saya meyakini sang sutradara mengerti bahwa cerita yang bersifat personal miliki kemampuan besar bagi penonton. Hal itu rasanya menjadi alasan Boonitipat memilih interaksi keluarga lintas generasi sebagai pusat cerita.

Ia menjadi miliki banyak modal mengeksplorasi beragam wujud hubungan, layaknya nenek-cucu, ibu-anak, kakak-adik, apalagi sampai keponakan-paman.

Berbagai macam interaksi itu juga mempunyai lapisan-lapisannya sendiri yang khas dan juga personal. Lapisan itu perihal dengan pola interaksi keluarga Asia yang sering dikenal kaku dan ada problem mengekspresikan cinta maupun afeksi.

Di pada beragam wujud itu, sang sutradara lantas memilih interaksi cucu-nenek sebagai nyawa cerita lewat sifat M (Billkin) dan Meng Ju atau Amah (Taew Usa Semkhum).

Baca juga:

The Good Nurse, Film Kejahatan Nyata Seorang Perawat

Film Horor Dengan Berbagai Hal Mistis Serta Kriminal

Perjalanan M menggaet hati Amah yang pada awalnya dijalankan demi mengejar harta dikembangkan menjadi begitu indah. Sutradara menyuguhkan perjalanan itu dengan begitu tulus dan sangat manusiawi.

Cerita yang dikemas itu juga tidak mengupayakan menggurui. Entah siapa yang lebih muda atau tua, tiap-tiap orang digambarkan miliki sudut pandang masing-masing dalam sebuah keluarga.

Kemampuan untuk selamanya realistis dan membumi itu rasanya menjadikan How To Make Millions Before Grandma Dies enteng di terima penonton. Ia mempunyai pesan universal yang dekat dengan semua kalangan.

Usai mampu menggaet hati penonton lewat cerita yang personal, sang sutradara lantas mengoyak-oyak itu semua lewat suguhan drama emosional.

Emosi penonton dibuat campur aduk sepanjang saksikan perjalanan M dan Amah. Boonnitipat memulai perjalanan itu dengan enteng dan banyak menyelipkan humor.

Chemistry nenek dan cucu itu tumbuh sejalan waktu, sejalan dengan perspektif anak-anak Amah yang terungkap satu per satu.

Hingga kemudian, How To Make Millions Before Grandma Dies meruntuhkan pertahanan penonton lewat dialog dan adegan tearjerker sepanjang 30 menit akhir cerita.

Menariknya, sang sutradara tidak menyuguhkan satu adegan klimaks yang menjadi gong tangis penonton. Ia justru menampilkan itu layaknya ombak yang menderu, agar emosinya mampu tetap mengalir sampai ujung film.

Adegan-adegan itu menciptakan momentum haru yang sebabkan air mata kian susah terbendung. Ia sukses menyentuh emosi berasal dari segala sisi. Air mata haru pun bak menjadi jaminan sehabis melihat film tersebut.

Keunggulan dalam cerita itu pun dilengkapi dengan tampilan berasal dari para pemeran. Sebagian besar aktor sukses menyuguhkan akting menawan agar tiap-tiap adegannya mulai hidup.

Namun, sorotan utama tertuju kepada Billkin dan Taew Usa Semkhum yang memerankan M dan Amah. Billkin sukses tunjukkan reputasi dirinya sebagai aktor Thailand generasi muda yang layak diperhitungkan.

Ia mampu memerankan M yang tetap mengalami perubahan sifat sepanjang cerita, mulai berasal dari bocah remaja cuek sampai menjadi laki-laki dewasa yang mulai mengerti arti sebuah keluarga.

Taew Usa Semkhum juga tidak kalah mengesankan sementara menjadi Amah, sang nenek. Emosi seorang nenek yang mulai kehampaan pada jaman senja tersampaikan dengan manis dan sangat menyentuh berkat tampilan sang aktris.

How To Make Millions Before Grandma Dies kian indah berkat dentingan piano yang mendominasi scoring musik. Alunan melodi itu rasanya sangat pas untuk mengiringi perjalanan M dan Amah yang syahdu.

Saya juga terkesan dengan sinematografi yang ditampilkan dalam film ini. Cerita yang sangat membumi itu dipertajam dengan pilihan latar serba sederhana, mulai berasal dari tempat tinggal nenek yang berusia puluhan tahun, tempat tinggal sakit yang penuh pasien, sampai taman makam yang sunyi.

Pilihan latar itu kian indah berkat komposisi warna yang dominan hijau dengan nuansa teduh. Sebagian besar adegan itu juga direkam tanpa pergerakan kamera, agar layarnya makin fokus menangkap aktivitas dan interaksi para karakter.

How To Make Millions Before Grandma Dies tak pelak menjadi tontonan penuh haru yang enteng dicintai banyak orang. Saya pun optimis judul ini dapat menjadi himbauan film Thailand favorit pada sementara mendatang.

Film ini apalagi berpotensi besar untuk menjadi perwakilan Thailand dalam Piala Oscar 2025, meneruskan jejak film Not Friends yang juga diproduksi oleh GDH 559.

Related Posts